Ketika unta masuk melalui lubang jarum


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguE752hsYId0PdEYzgsr35s7dSTJlRrUMQ4B9i6M4gSFSrkBYBYKFmFzERrV5P-aZtpcJlllW4QwYKQVf_fV7_KZvUltgalJCGtZ32qybuP0iMt7nxi7USGqBOcCrlnzM1HY8rDUe16m9L/s320/Untitled+picture.pngOleh: Izar Tirta

Yesus pernah berkata:
Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Matius 19:24)
Dalam tulisan saya berjudul “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”, telah dibahas sedikit tentang ungkapan Yesus mengenai seekor unta yang masuk melalui lubang jarum tersebut. Melalui tulisan kali ini, saya bermaksud mengajak kita semua untuk melihat lebih dalam lagi seputar persoalan tersebut.
Ungkapan Yesus mengenai unta dan lubang jarum, memang memancing suatu tanda tanya besar, baik bagi gereja pada abad-abad permulaan, maupun bagi gereja pada saat ini. Berbagai komentar dan tafsiran telah dibuat demi suatu upaya untuk menjelaskan apa yang Yesus maksudkan dengan kata-kata-Nya tersebut. Meskipun demikian, di antara semua itu, ada dua tafsiran yang paling populer mengenai ungkapan Yesus ini, yaitu:
Pertama, pintu lubang jarum
Ada pendapat yang mengatakan bahwa lubang jarum yang dimaksud oleh Yesus dalam ungkapan tersebut sebenarnya adalah sebuah pintu kecil yang terdapat di gerbang sebuah kota. Konon dikatakan bahwa pintu kecil tersebut dibuat untuk para pengelana yang tiba di kota pada saat malam hari, yaitu ketika gerbang utama telah ditutup. Demi alasan keamanan, pintu tersebut sengaja dibuat dalam ukuran kecil. Sehingga ketika seekor unta hendak masuk melalui pintu tersebut, maka unta tersebut harus menunduk dan merayap serta harus melepaskan semua barang yang dibawanya.
Dr. John Phillips, seorang cendekiawan Biblika yang sangat aktif menulis eksposisi Alkitab, mengungkapkan hal ini dalam bukunya berjudul Exploring the Gospel of Matthew. Phillips mengatakan:
“When the main gates were closed for the night, the merchant arriving late was forced to enter through the small postern gate. Usually he had to unload his camels so that they could get through.”[1]
Tafsiran semacam itu sebenarnya bukanlah suatu tafsiran baru. Gagasan tentang adanya sebuah pintu kecil di gerbang kota tersebut sudah muncul sejak abad ke 15. Beberapa ahli teologi bahkan mengatakan bahwa teori ini sudah ada sejak abad ke 9 M. Masalahnya bagi kita sekarang adalah, apakah teori tersebut  dapat atau layak kita terima?
Sepintas, gagasan tentang pintu kecil ini memang terasa cukup masuk akal. Ada kesan keindahan di dalamnya. Bagaimana seekor unta harus berlutut dan melepaskan bebannya untuk dapat memasuki pintu kecil itu, seolah mengisyaratkan adanya unsur kerendahan hati dan ke-berserah-an di dalam aktivitas tersebut.
Namun demikian, tafsiran semacam ini memiliki beberapa kelemahan yang boleh dikatakan fatal, yaitu:
Pertama, secara historis tidak ada pintu kecil semacam itu di gerbang kota pada masa Yesus melayani. Penelitian arkeologi yang berhubungan dengan pembuktian Alkitab pun tidak pernah menemukan pintu seperti itu. Jadi dengan kata lain, tafsiran tentang pintu tersebut pun pada dasarnya hanyalah isapan jempol belaka. Hanya terdengar indah di telinga, hanya memuaskan rasa ingin tahu sesaat, namun sama sekali tidak nyata. Itu hanya fiksi. Hampir tidak ada lagi teolog abad ini yang masih memegang gagasan tersebut dalam eksposisi mereka.
Kedua, istilah Yunani yang dipakai dalam ayat-ayat tersebut, sangat jelas berbicara tentang lubang yang terdapat pada jarum yang biasa dipakai untuk menjahit.
Injil Matius memakai istilah trupematos rafidos. Trupematos sendiri berarti lubang yang biasa terdapat pada jarum. Sedangkan rafidos berarti jarum. Sehingga trupematos rafidos secara harafiah dapat diterjemahkan menjadi “lubang jarum pada jarum.” Terdengar agak janggal memang, tapi yang ingin saya utarakan di sini adalah bahwa kedua kata itu telah saling memberi penekanan arti antara satu dengan lainnya.
Sementara itu, istilah yang dipakai Markus adalah tes trumalias tes rafidos. Seperti yang kita lihat, Markus malah memberi definite article pada kata “lubang jarum” & “jarum.” Dalam bahasa Ingris, istilah yang dipakai Markus itu dapat diterjemahkan menjadi “the hole of the needle.” Penambahan kata “the” dalam bahasa Inggris atau tes dalam bahasa Yunani memberi penekanan bahwa benda tersebut adalah benda yang sudah tertentu dan sudah diketahui lawan bicaranya.
Injil Lukas memakai istilah trumalias rafidos, hampir sama seperti Matius. Perbedaan terletak pada pemakaian kata benda neuter (oleh Matius) dan kata benda feminin (oleh Lukas). Dalam hal ini saya merasa wajar jika Lukas memakai bahasa Yunani yang lebih spesifik ketimbang Matius, mengingat Lukas memang adalah seorang Yunani, sementara Matius orang Yahudi. Lukas lahir di Antiokhia dan banyak mempelajari filsafat Yunani, ilmu sejarah dan ilmu kedokteran. Selain itu, Injil Lukas juga dikenal sebagai Injil yang ditulis dengan memakai kualitas bahasa Yunani yang paling tinggi serta lebih sulit ketimbang Matius, Markus maupun Yohanes.
Dalam manuskrip lain dari Alkitab Yunani untuk Injil Lukas, kata yang dipakai adalah Belones, yang berarti jarum yang digunakan untuk menjahit luka dalam suatu operasi medis. Menurut saya hal ini juga tidak mengherankan, mengingat profesi Lukas sebagai seorang dokter.
Dari ketiga Injil, jelas terlihat bahwa yang Yesus maksudkan memang adalah lubang yang terdapat pada jarum. Tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa kata “lubang jarum” tersebut mengacu pada pengertian yang berbeda.
Ketiga, gagasan tentang pintu lubang jarum itu tidak sejalan dengan ajaran tentang keselamatan yang terdapat di dalam bagian lain dari Alkitab. Seluruh Alkitab mengajarkan pada kita bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari hukuman dosa. Manusia hanya dapat diselamatkan oleh anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Siapapun yang membaca Alkitab dengan baik, seharusnya tidak mungkin melewatkan ajaran ini, yang menjadi salah satu core teaching dari Alkitab.
Jika gagasan tentang lubang jarum itu adalah sama seperti gerbang kecil yang mengharuskan unta melewatinya dengan cara menunduk, maka bukankah unta tersebut tetap bisa masuk dengan usahanya sendiri, walau sulit? Apakah dengan demikian Yesus ingin mengatakan bahwa manusia pun dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga dengan usahanya sendiri, walau sulit? Jika demikian, lalu bagaimana kita harus memahami kata-kata Yesus berikutnya: “bagi manusia tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” ? Bukankah dalam pengertian tersebut, ada kesan bahwa bagi manusia pun hal itu mungkin saja terjadi?
Dari beberapa alasan di atas, pandangan populer yang mengatakan bahwa “lubang jarum” tersebut adalah sebuah pintu kecil atau gerbang kecil, jelas tidak dapat diterima.
Jika kita ingin menafsirkan Alkitab secara baik dan bertanggung jawab, maka tentu gagasan tentang adanya pintu lubang jarum ini harus kita hapuskan dari benak kita.
Kedua, bukan unta melainkan tali tambang
Ada pendapat pula yang dikemukakan oleh seorang Doktor sekaligus Uskup dari sebuah gereja di Alexandria Mesir pada abad 5 Masehi bernama Cyril. Ia mengatakan bahwa Alkitab yang kita miliki sekarang telah keliru menyalin dari manuskrip aslinya. Seharusnya kata yang dipakai adalah kamilos yang berarti tali tambang dan bukan kamelos yang berarti unta.
Gagasan ini juga tidak dapat lagi kita terima, karena sampai sekarang tidak ada bukti bahwa terdapat manuskrip asli yang menggunakan kata kamilos. Baik Matius, Markus maupun Lukas semua memakai kata kamelos yang berarti unta.
Lagipula, apa yang ingin dicapai oleh gagasan tali tambang ini? Apakah berarti bahwa tali tambang itu harus dikupas satu persatu agar bisa masuk ke dalam lubang jarum? Gagasan ini sama saja kelirunya dengan gagasan tentang gerbang kecil di tembok kota yang tadi sudah kita bahas.
SEBUAH UNGKAPAN  TENTANG SUATU KEMUSTAHILAN
Upaya-upaya untuk menjelaskan arti dari ungkapan “unta dan lubang jarum” dengan memakai gambaran tentang “pintu kecil” atau pun “tali tambang,” sebenarnya justru merupakan bukti kegagalan kita dalam melihat inti pesan dari Yesus tentang seberapa besar peluang yang dimiliki seorang manusia untuk masuk ke dalam kerajaan sorga.
Istilah yang senada dengan “unta melewati lubang jarum” ini sebenarnya muncul pula dalam puisi-puisi Persia kuno dan Babylonian Talmud.[2] Hanya saja, dalam literatur-literatur tersebut, hewan yang dipakai bukanlah unta melainkan seekor gajah. Dalam traktat Berakoth yang terdapat pada kumpulan Babylonian Talmud misalnya, terdapat ungkapan:
... a man is never shown a date palm of gold, or an elephant going through the eye of a needle.[3]
Melalui ungkapan itu, seorang Rabi Yahudi ingin mengajarkan bahwa sebuah mimpi dapat menunjukkan hal-hal terdalam yang ada pada pikiran manusia. Dan sebuah pikiran yang sehat biasanya tidak pernah berkhayal tentang hal-hal yang mustahil seperti “a date palm of gold” ataupun “an elephant going through the eye of a needle.” Perhatikan bahwa ungkapan “gajah masuk lubang jarum” disandingkan dengan “sebuah pohon kurma emas.” Bagi audience pada masa itu, dua ungkapan itu jelas ditangkap sebagai ungkapan kemustahilan. Mereka tidak perlu lagi berpikir, apakah “lubang jarum” dalam istilah itu mengacu pada sebuah pintu? Ataukah “pohon kurma emas” itu berarti sesuatu yang lain daripada sebuah pohon kurma yang terbuat dari emas?
Literatur-literatur kuno tersebut, telah semakin memperkuat dugaan kita bahwa kata-kata Yesus mengenai “unta melewati lubang jarum” itu sebenarnya mengacu pada suatu kemustahilan. Bagi seorang manusia yang berdosa, entah ia dikaruniai harta yang berlimpah atau pun tidak, adalah mustahil untuk masuk ke dalam kerajaan sorga.
Yesus mamakai kata “unta” dan bukan “gajah,” karena mungkin sekali unta adalah binatang mamalia paling besar yang dapat dengan mudah ditemui oleh para pendengar Yesus ketika itu, ketimbang seekor gajah. Sedangkan lubang jarum adalah lubang paling kecil yang sehari-hari dapat mereka temui. Ketika Yesus mengatakan bahwa “lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum” sebenarnya Yesus ingin mengatakan bahwa hal itu mustahil untuk dikerjakan oleh seorang manusia. Jika yang “lebih mudah” saja sudah mustahil, lalu bagaimana dengan yang “sukar sekali”?[4] Jawabnya adalah sungguh amat mustahil bagi manusia.
Meskipun mustahil bagi manusia, tidak demikian bagi Allah. Allah mampu membawa seseorang untuk masuk ke dalam kerajaan sorga, yaitu melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Dan tentu saja tidak mudah bagi Yesus untuk mengorbankan diri-Nya bagi Anda dan saya. Darah yang Ia cucurkan bukanlah special effect khas film-film Hollywood. Darah yang Ia cucurkan adalah darah yang nyata, dari luka yang nyata dan yang telah membawa Yesus pada kematian yang nyata. Tidak ada yang mudah dan tidak ada yang murah bagi Yesus untuk membawa Anda dan saya yang penuh dosa ini untuk boleh datang ke hadirat Allah kelak.
Jauh lebih mudah bagi Yesus untuk secara ajaib memasukkan unta melewati lubang jarum. Seajaib Ia telah berjalan di atas air. Seajaib Ia telah mengubah air menjadi anggur. Seajaib Ia telah membuat lima roti dan dua ikan untuk konsumsi ribuan orang. Mengapa dikatakan “jauh lebih mudah?” Sebab tidak ada peristiwa berdarah di dalam segala keajaiban seperti itu. Tetapi untuk membawa masuk orang yang penuh dosa seperti saya misalnya, Yesus harus berdarah-darah, bahkan mati secara mengenaskan.
Kerajaan sorga tidak diperoleh melalui perbuatan baik atau karena menuruti 10 Perintah Allah, Kerajaan sorga diterima sebagai suatu anugerah dari Allah kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.
Kiranya melalui pembahasan ini, kita kembali diingatkan akan ketidakmampuan serta ketidaklayakan kita di hadapan Tuhan. Hanya Yesus Kristus yang mampu melayakkan kita, karena hanya Dialah yang telah mati bagi dosa kita dan yang telah bangkit untuk memberi kita hidup yang kekal. Bagi Dia, bukan hal yang mustahil untuk menyelamatkan diri kita dari hukuman dosa. Masalahnya adalah, bersediakah kita menjadikan Dia sebagai satu-satunya Juruselamat dan satu-satunya Tuhan dalam hidup kita?
Tuhan memberkati.


[1] John Phillips, Exploring The Gospel of Matthew (Kregel: Grand Rapids Michigan, 1999), p 386.
[2] Kumpulan teks atau traktat yang ditulis oleh para Rabi Yahudi.
[3] Tract Berakoth of Babylonian Talmud, folio 55b, verse 39.
[4] Ungkapan “sukar sekali” muncul pada Matius 19:23, yaitu satu kalimat sebelum “unta dan lubang jarum” ini. Jika Tuhan berkenan, saya akan memperdalam bahasan tentang ungkapan “sukar sekali” tersebut dalam suatu tulisan tersendiri, yaitu ketika membicarakan tema-tema seperti “orang kaya dan orang yang miskin di hadapan Tuhan” (Matius 5:3)

Komentar